Ana Dina Ana Upa (Ada Hari Ada Nasi)

Semua kejadian yang ada di alam semesta ini merupakan ayat-ayat tersirat sebagai bahan pembelajaran bagi insan dari Al-kholiqnya. Semua disajikan begitu komplit supaya manusia dapat memilah dan memilih mana yang hendak ia serap, saring dan dibuang. Tak lain dan tak bukan semua untuk untuk mengembalikan ke rumahnya yang sesungguhnya, surga.
Seringkali manusia lupa, bahwa rumahnya sekarang di dunia ini sifatnya maya, dan sangat sementara. Siapa yang terlena pasti ia akan kecewa. Peraduan yang hakiki ialah Ilahi rabbi, bukan rumah mewah dan tanah luas. Harta membuat manusia membuat lupa akan kiblatnya, bahwa semata-mata ia dicipta untuk beribadah kepadaNya.

Tentu saja, jika kita hendak memaknai apa yang kita lakukan  di dunia ini, tak lain dan tak bukan semata-mata untuk beribadah pada Alloh SWT meskipun dengan chasing yang berbeda. Bekerja pun suatu bentuk ibadah jika niat yang dipasang adalah ibadah karena semua amal tergantung pada niatnya.
Seekor burung yang tak dianugerhi akal seperti manusia pun telah dijamin rejekinya oleh Alloh SWT. Ia pergi dari sangkarnya entah kemana, membiarkan angin menerbangkannya menuju tempat dimana ia bisa mengais rejekinya. Lalu ia pulang kembali ke sangkar dengan perut kenyang untuk beristirahat. Seperti itu, Alloh sudah menjamin rejeki manusia, ibarat buah yang tergantung di pohon, tinggal seberapa kuat ihtiyar manusia untuk memetik rejeki tersebut. Karena buah tak akan datang menghampiri manusia meski ia pemiliknya.
Istilah orang jawa yang sering kita dengar adalah rejeki jodho nyampar nyandung. Nyampar dan nyandung adalah akibat dari suatu sebab karena kita berjalan. Akan tetapi jika kita berdiam diri apakah kita akan nyampar atau nyandung? Tentu tidak. Itualah hakikat rejeki, Tuhan sudah menanamkan buah-buah rejeki kita, tinggal kita mau memetik atau tidak.
Satu lagi istilah enteng (ringan) orang jawa, Ana dina ana upa yang berarti ada hari ada nasi. Sebuah ungkapan yang menurut saya sangat luar biasa. Suatu bentuk keimanan total seorang makhluk pada Alkholiqnya dimana Alloh menjamin setiap hambanya bagi mereka yang mau berusaha karena Alloh sudah menyiapkan imbalan dari apa yang diusahakan tersebut.
Seorang dengan segala daya dan upaya akan mencukupi kebutuhannya
Tak perlu risau, karena rejeki itu adalah anugerah dari Alloh bukan dari hasil rekayasa akal. Seandainya rejeki itu tergantung pada akal tentu makhluk yang tidak berakal (binatang) tidak mendapatkan rejeki, akan tetapi kenyataannya semua makhluk diberi rejeki oleh Alloh tanpa kecuali.
Abu Tamam berkata:
Seandainya rejeki itu mengalir ditangannya orang yang berakal saja, maka hewan ternak akan mati karenanya.
Rezeki kita tak pernah tertukar dengan rezeki orang lain. Setiap orang memiliki bagian rezeki masing-masing. Ada yang diberi kelebihan, ada yang diberi sederhana ada pula yang seba kekurangan. Semua itu pasti ada hikmah yang ingin disampikan di dalamnya oleh Alloh kepada manusia. Seandainya Alloh menciptakan seluruh manusia dengan status kaya, tentu tatanan sosial tidak akan berjalan. Karena itulah alloh menciptakan semua berpasang-pasang.
Oleh karena itu, kewajiban kita sebatas berihtiyar dengan segala upaya, untuk masalah hasil biar Alloh yang bekerja. Semua pasti ada balasaanya, hanya masalah waktu saja dan hanya Alloh yang tahu.