Bukan Barangnya, tapi siapa yang Memberikannya

Suatu hari, duduklah seorang pemuda bernama Fulan di sebuah bangku panjang di bawah pohon beringin tempat nongkrong anak muda. Alangkah indah hidup ini ketika kita melihat raut muka si Fulan. Dengan memandangi setangkai mawar mewar, dia begitu bahagia, merasa tidak ada lagi yang perlu dikerjakan kecuali hanya itu saja. Matanya berbinar, sorot kebahagiaan, bibirnya berhias senyum yang merekah.
Pada kesempatan yang sama, datanglah teman Fulan yang bernama Habibi. Habibi begitu terheran-heran ketika melihat temannya itu begitu menikmati hidup hanya dengan memandangi sekuntum mawar merah. Dia begitu "iri" dengan Fulan karena mendapat begitu banyak kebahagiaan dari bunga tersebut. Tanpa pikir panjang, Habibi pun segera membeli bunga yang sama dengan yang dipandangi oleh si Fulan.
Haduh, si Habibi malah kebingungan sendiri, bukan rasa bahagia yang dia dapat saat melihat bunga mawar tersebut tapi justru rasa penyesalan dalam diri Habibi, yah tentu saja uang itu dapat dibelikan makanan yang dapat membuat perut kenyang, gerutu Habibi.
Karena penasaran dengan si Fulan, Habibi pun mengahampiri si Fulan dan mencoba mencari penjelasan dengan apa yang sebenarnya terjadi pada si Fulan.
"Hai Fulan, Kenapa engaku tersenyum bahagia saat melihat bunga itu, sedangkan aku tak merasakan sesuatu ketika melihat bunga yang sama?", tanya Habibi.
Fulan pun menjawab, "Oh ini, teman, tahukan kamu? Ketika aku melihat bunga ini aku melihat orang memberikannya, di Kekasihku"