Rejeki, Jodho iku nyampar nyandung. Sekilas itulah "unen-unen enteng" (perkataan
ringan/sepele) dalam kultur orang jawa. Biasanya orang tua akan mengatakan
demikian ketika salah seorang kerabatnya bahkan dirinya sendiri tidak bisa
mendapatkan sesutau yang dicinta dan dicitakan. Sekedar untuk menghibur dirinya
atau orang lain yang tak lain adalah transformasi dari bentuk keprasahan bahkan
keputusasaan.
Setelah saya coba
telaah lebih dalam lagi, (karena saya lagi putus asa juga, hehehe) ternyata
kata-kata tersebut memiliki nilai kearifan yang sangat luar biasa. Bahkan saya
sendiri baru menyadari kekuatan itu baru baru ini. Unen-unen tersebut
menerangkan bagaimana kekuatan ihitiyar dan tawakal melebur menjadi satu,
"kempel" (kuat).
Mari coba kita kupas secara pelan-pelan.Rejeki Jodho itu artinya Rizki dan Jodoh
Nyampar itu artinya tak sengaja tertendang /
tersenggol
Sedangkan Nyandung itu artinya tersandung
Nyampar atau
Nyandung merupakan sebuah akibat. Tentunya ada sebab mengapa seseorang bisa
nyampar atau nyandung. Jawaban yang paling sederhana untuk akibat di atas adalah
adanya kata kerja "berjalan". Seseorang baru akan nyampar atau nyandung ketika
ia sudah melakukan aktifitas yang bernama berjalan. Dengan kata lain, Berjalan
merupakan bentuk ihtiyar sedangkan nyampar atau nyandung adalah hasil dari
ihtiyar. Perkara ada hasil atau tidak itulah bentuk kelegowoan (tawakal) seorang
umat. Lain halnya, jika sesorang hanya berdiam diri (duduk), sampai kapanpun ia
tak akan nyampar atau nyandung apapun.
Secara eksplisit ketika seseorang ingin
mendapat apa yang ia inginkan, maka ia harus mengupayakannya (melakukan
action), tidak boleh berpangku tangan dengan kepasrahan. Karena
kualitas tawakal adalah kepasrahan seseorang ketika sudah melakukan upaya yang
bisa dilakukan. Seringkali kita tidak memperhatikan betapa arif dan bijaksananya
kultur di sekitar kita.

0 komentar: