Kembali padaNya

Manusia dengan segala polemiknya mau tak mau harus menghadapai satu kepastian yang tak mungkin dan tak akan bisadielakkan. Kepastian itu akan membuat semua orang berhenti untuk berlari, behenti untuk mengejar dan hanya akan mejadi seonggok daging yang tak berdaya. Kematian menuntun manusia menuju pada Kholiq, penciptanya dan pencipta alam semesta. Tak banyak yang “sadar” kalau kematian itu senantiasa mengintai manusia, bak bayangan, ia akan selalu membuntuti kemana saja pergi dan bahkan ditempat yang paling redup sekalipun.
       Seringkali manusia berada dalam keterlenaan nikmat duniawi, dibuai dalam hingar-bingar surgawi dunia yang menyuguhkan sebuah kenikmatan yang seperti tiada habisnya, yang sejatinya itu sangat maya, sangat sebentar saja. Tak sadarkah manusia, jika yang abadi itu lebih sejati? Akhirat, tempat pembalasan di ladang dunia atas apa yang kita tanam.

       Mungkin pernah rekan-rekan mengalami feels yang sering kali saya rasakan. Mencoba menerawang masa depan kita dengan segala tumpukan impian dan harapan yang menggunung. Namun suatu saat tumpukan itu mulai goyah karena sebuah kenyataan, kematian.


       Sekarang berumur 23 tahun, sebentar lagi berumah tangga, menjadi Bapak/Ibu, menjadi tua lalu menjadi kakek/nenek (itupun kalau masih sempat) dan setelah itu hanya akan mati, menjadi tanah kembali. Semua menjadi begitu absurd ketika dihadapkan dengan perihal yang bernama kematian, terutama jika melihat sanak saudara meninggal. Dan saya mulai bertanya-tanya lalu dimana passion saya ketika saya ingin melakukan hal keduaniawian yang begitu banyak.

       Jawabannya hanya satu "Alloh". Dia pemberi segalanya, materi duniawi sampai ketenangan dalam hati. Tuhan yang berkuasa, kenapa hanya karena mengejar apa yang diciptakanNya, yang diberikanNya (materi duniawi), sering kali kita melupakanNya. Apa yang ada dalam hati ini merupakan sebuah bentuk kegusaran tentang sebuah hubungan yang tak dekat anatara Kholiq dengan makhluk. Semoga Tuhan melapangkan hati ini, untuk kembali padaNya.