Pagi itu,
matahari belum mau menampakan diri dari balik bukit belakang rumah, udara masih
menusuk tajam bagi si Alif kecil, dan itu cukup mejadi alasan baginya untuk
membenarkan selimut daripada bergegas beranjak dari tempat tidur. Kicauan
burung berharmoni dengan lantunan ayat suci alquran menjadi simphoni, menu pagi
pengiring “tidur ayam” si Alif.
“Alif, bangun
nak, sholat subuh dulu. Ini udah mau siang loh”, pinta kakek. Dengan malas pun
alif menjawa “emhh, iya kek, bentar lagi, masih dingin ni” sambil membenarkan
selimutnya. Kakek pun mulai mendekati dan dengan lembut kakek mulai
membangunkan. Akhirnya terpenuhilah kewajiban alif untuk melaksanakan sholat
subuh.
Jengkal demi
jengkal matahari mulai menghangatkan setiap sudut desa. Alif yang sudah mandi
segera berpamitan pada kakek untuk bermain dengan teman-temannya. "Kek,
alif main sama teman-teman dulu ya?". "oh, iya nak, tapi jangan main
di sungai ya, baru banjir kan?". "Iya kek,", sahut Alif sembari
lari bergegas pergi menemui teman-temannya.
Sesampianya
Alif bersua dengan teman-temannya, dengan sedikit raut wajah yang kompak,
teman-temannya menyorot kedatangan Alif. "akhirnya datang juga si
Alif", "iya ada apa?" sahut Alif. "Eh, Lif. kakekmu itu
baca apa sih kalo pagi, ganggu orng tidur saja". "Eh, itu baca
al-quran, dapat pahala loh". "Oh gitu ya? yang bener Lif",
"bener, kata kakek kalo baca alquran dapat pahala, apalagi kalau bulan
ramadhan" terang Alif. Sambil mengangguk-angguk, teman-teman Alif menegerti
dengan hal tersebut dan sejenak mulai terdiam dan seketika sorot tajam yang
semula terpancar dari wajah teman-temannya kini kian memudar.
Dalam
perjalanan pulang seuasi bermain dengan teman-temannya, Alif mulai bimbang
dengan yang dikerjakan oleh Kakeknya itu. "Kenapa kakek baca
Al-quran tiap pagi ya, memang kakek tahu artinya", pertanyaan-pertanyaan
itu bergumam dalam hati dan terus-terusan memenuhi tiap sudut pikiran
Alif.
"Asalamu'alikum",
"oh Alif sudah pulang", kata dalam Hati Kakek, "Waalaikum salam
Lif". Alif segera masuk rumah. Tak seperti biasanya yang langsung menuju
Kamar Mandi untuk langsung membersihkan diri, Alif langsung menghampiri Kakek.
"Kakek, Alif mau tanya kek", "iya, kenapa Lif". Kakek kan
tiap pagi baca alquran, tapi kakek ga tahu artinya, kan sama saja tidak ada
gunanya, tapi kenapa kakek tiap pagi membaca Alquran?". Kakek pun
tersenyum kecil lalu berkata, "kamu mau tahu jawabannya Lif",.
"Iya" dengan tegas Alif menjawab. "Besok pagi akan kakek jawab,
tapi Alif jangan main dulu sama teman-teman ya, sekarang mandi dulu sanah",
"yah, kok besok sih Kek sekarang saja". "Udah besok saja",
"baik kek", sahut Alif dengan bahasa tubuh yang lemas.
Keesokan
harinya, masih seperti hari-hari biasanya ketika Alif terbangun dari tidurnya
Ia sudah mendengar lantunan ayat suci al-quran. Bergegas Alif untuk segera
menunaikan sholat subuh dan kegiatan rutin lainnya. Matahari mulai menguapkan
embun-embun yang berpegangan pada pucuk daun. Alif yang semalaman tidur dengan
penuh rasa tanya akhirnya datang menghampiri kakek untuk menyakan hal tempo
hari. “Giman kek, gimana jawabannya”, sahut Alif dengan penuh hasrat. “Benar ini mau tau jawabannya
kenapa Kakek tetap baca Al-quran mesti Kakek tak tahu artinya?”. “Tentu kek” sambil
manggu-manggut dengan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu.
Tapi sebentar
Lif, sebelum kakek jawab, tolong kakek ambilkan air untuk menyirami tanaman di
halaman. Kasihan tanamannya sudah mau layu. Itu dibelakang ada ember tempat
arang, pakai itu saja, arangnya di taru di dekat tungku saja. “Oh baik Kek”
sahut Alif. Bergegaslah Alif mengambil ember tersebut.
“Kek, kok
embernya pecah dan lagi pula kotor kan kena arang gini, kan ga bisa buat
nampung air”. “udah Lif, dicoba dulu" sambung Kakek. “Baik Kek”, seakan logika sudah lumpuh tertutupi oleh hasrat rasa ingin tahun, akhirnya Alif mengambil air di sumber mata air dekat sungai, tidak begitu jauh dari
rumah.
Belum jauh
beranjak dari tempat Alif mengambil air, sudah habislah air yang di dalam
ember. Sampai diulangi ketiga kalinya, Alif menyerah dan menghampiri kakeknya
seraya mengeluh “Kek, ini kan sia-sia saja, masa ambil air dengan tempat yang
sudah bocor seperti ini”. Simpul senyum kakek merekah untuk menenangkan
kegusaran si Alif, “coba lagi Lif, pasti tidak ada yang sia-sia”
Rupanya tekad
Alif untuk mengetahui jawaban itu sudah bulat, bak air bah yang datang dengan
derasnya yang akan menerjang tiap bendungan. Alif berpikir, supaya air bisa
dibawa pulang maka ia harus memangkas perjalanan. Salah satu cara untuk
memangkas perjalanan adalah dengan berlari. Benar adanya, Alif mulai berlari
untuk mempersingkat jarak tempuh dan supaya ada air yang dapat ia bawa pulang.
Tanpa sadar Kakek memperhatikan Alif dari jauh.
Melihat tekad
cucunya masih membara, tapi tidak dengan kekuatan fisiknya, Kakek lagsung memanggil
Alif untuk menyudahi. “Bagaiman Alif, apakah kamu berhasil?” tanya Kakek.
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal Alif pun menjawab dengan lesu “tidak
kek, bagaimana mungkin Alif bisa membawa pulang air kalau tempatnya saja tidak
bisa untuk menampung air seperti itu”, sahut Alif dengan sedikit kesal karena
merasa melakukan hal yang sia-sia saja.
Dalam pikiran
Alif, tentu pekerjaan dengan alat yang begitu terbatas yang diberikan oleh
kakeknya adalah pekerjaan yang tak berguna, sia-sia atau sejenisnya. Kalau saja
Alif tidak ingin tahu jawaban dari mengapa tiap pagi Kakek membca Al-quran
sedangkan kakek tidak mengetahui artinya, tentu Alif akan menawar dengan
menggunakan ember yang lain.
Lalu Alif beristirahat dan Kakek membuat
teh hangat manis dan menyuruh Alif untuk
minum. Setelah melihat perangai Alif yang mulai tenang, kakek mulai menjelaskan
kenapa Alif diberikan pekerjaan yang terkesan buang-buang waktu dan tidak
berguna.
“Alif,
pekerjaan yang kamu lakukan tadi itu adalah jawaban yang kamu inginkan”, terang
kakek. “Maksudnya kek?”, sambar Alif. “Coba sekarang kamu perhatikan bagiaman
ember yang kamu pakai tadi?”. “Tidak ada apa-apa kek”. “Coba lihat sekali lagi”.
Alif termenung sejenak, mengamati ember tersebut dengan seksama. Dahi Alif yang
berkerut sebagi tanda ia sedang berpikir kini mulai merenggang dan berubah
menjadi sumringah. “Ini kek ketemu, embernya jadi bersih, tadi kan kotor sekali
penuh dengan bekas arang”
“Nah, pintar
kamu Lif. Itu jawabannya”, kata kakek. “Maksudnya kek?”, tanya Alif dengan gesture garuk-garuk kepala ala orang
berpikir sebuah tanda meminta kakek untuk menjelaskannya.
"Tadi katanya
kamu bilang kalau kamu mengerjakan pekerjaan yang sia-sia kan Lif, tapi ternyata
tanpa kamu sadari kamu sudah melakukan satu pekerjaan besar, yaitu membersihkan
ember. Seperti itulah Lif, kakek memang tidak tahu arti dari al-quran. Membacanya
seperti pekerjaan yang sia-sia dan menghabiskna waktu. Tapi, Alloh akan membersihkan
hati manusia yang setiap hari disirami dengan bacaan kitab suci Al-quran. Kakek
meyakini satu hal itu Lif."
“Seringkali
manusia, sisi idealisnya menuntutnya untuk melakukan sesuatu berlandaskan ilmu
pengetahuan. Namun, ada landasan yang lebih kuat dibanding hal tersebut, yaitu
menjalankan dengan rasa taat dan ikhlas kepada Alloh SWT. Selalu berkhusnudhon
kepada Alkholiq, jika sekecil apapun yang kita perbuat pati Alloh akan
membalasnya. Siapa yang menam, ia juga yang akan menuai”, jelas kakek.

0 komentar: