Bak Tiada Guna, tapi Siapa Sangka..!!

Pagi itu, matahari belum mau menampakan diri dari balik bukit belakang rumah, udara masih menusuk tajam bagi si Alif kecil, dan itu cukup mejadi alasan baginya untuk membenarkan selimut daripada bergegas beranjak dari tempat tidur. Kicauan burung berharmoni dengan lantunan ayat suci alquran menjadi simphoni, menu pagi pengiring “tidur ayam” si Alif.
“Alif, bangun nak, sholat subuh dulu. Ini udah mau siang loh”, pinta kakek. Dengan malas pun alif menjawa “emhh, iya kek, bentar lagi, masih dingin ni” sambil membenarkan selimutnya. Kakek pun mulai mendekati dan dengan lembut kakek mulai membangunkan. Akhirnya terpenuhilah kewajiban alif untuk melaksanakan sholat subuh.
Jengkal demi jengkal matahari mulai menghangatkan setiap sudut desa. Alif yang sudah mandi segera berpamitan pada kakek untuk bermain dengan teman-temannya. "Kek, alif main sama teman-teman dulu ya?". "oh, iya nak, tapi jangan main di sungai ya, baru banjir kan?". "Iya kek,", sahut Alif sembari lari bergegas pergi menemui teman-temannya.

Sesampianya Alif bersua dengan teman-temannya, dengan sedikit raut wajah yang kompak, teman-temannya menyorot kedatangan Alif. "akhirnya datang juga si Alif", "iya ada apa?" sahut Alif. "Eh, Lif. kakekmu itu baca apa sih kalo pagi, ganggu orng tidur saja". "Eh, itu baca al-quran, dapat pahala loh". "Oh gitu ya? yang bener Lif", "bener, kata kakek kalo baca alquran dapat pahala, apalagi kalau bulan ramadhan" terang Alif. Sambil mengangguk-angguk, teman-teman Alif menegerti dengan hal tersebut dan sejenak mulai terdiam dan seketika sorot tajam yang semula terpancar dari wajah teman-temannya kini kian memudar.
Dalam perjalanan pulang seuasi bermain dengan teman-temannya, Alif mulai bimbang dengan yang dikerjakan oleh Kakeknya itu. "Kenapa kakek baca  Al-quran tiap pagi ya, memang kakek tahu artinya", pertanyaan-pertanyaan itu bergumam dalam hati dan terus-terusan memenuhi tiap sudut pikiran Alif.
"Asalamu'alikum", "oh Alif sudah pulang", kata dalam Hati Kakek, "Waalaikum salam Lif". Alif segera masuk rumah. Tak seperti biasanya yang langsung menuju Kamar Mandi untuk langsung membersihkan diri, Alif langsung menghampiri Kakek. "Kakek, Alif mau tanya kek", "iya, kenapa Lif". Kakek kan tiap pagi baca alquran, tapi kakek ga tahu artinya, kan sama saja tidak ada gunanya, tapi kenapa kakek tiap pagi membaca Alquran?". Kakek pun tersenyum kecil lalu berkata, "kamu mau tahu jawabannya Lif",. "Iya" dengan tegas Alif menjawab. "Besok pagi akan kakek jawab, tapi Alif jangan main dulu sama teman-teman ya, sekarang mandi dulu sanah", "yah, kok besok sih Kek sekarang saja". "Udah besok saja", "baik kek", sahut Alif dengan bahasa tubuh yang lemas.
Keesokan harinya, masih seperti hari-hari biasanya ketika Alif terbangun dari tidurnya Ia sudah mendengar lantunan ayat suci al-quran. Bergegas Alif untuk segera menunaikan sholat subuh dan kegiatan rutin lainnya. Matahari mulai menguapkan embun-embun yang berpegangan pada pucuk daun. Alif yang semalaman tidur dengan penuh rasa tanya akhirnya datang menghampiri kakek untuk menyakan hal tempo hari. “Giman kek, gimana jawabannya”, sahut Alif dengan penuh hasrat. “Benar ini mau tau jawabannya kenapa Kakek tetap baca Al-quran mesti Kakek tak tahu artinya?”. “Tentu kek” sambil manggu-manggut dengan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu.
Tapi sebentar Lif, sebelum kakek jawab, tolong kakek ambilkan air untuk menyirami tanaman di halaman. Kasihan tanamannya sudah mau layu. Itu dibelakang ada ember tempat arang, pakai itu saja, arangnya di taru di dekat tungku saja. “Oh baik Kek” sahut Alif. Bergegaslah Alif mengambil ember tersebut.
“Kek, kok embernya pecah dan lagi pula kotor kan kena arang gini, kan ga bisa buat nampung air”. “udah Lif, dicoba dulu" sambung Kakek. “Baik Kek”, seakan logika sudah lumpuh tertutupi oleh hasrat rasa ingin tahun, akhirnya Alif mengambil air di sumber mata air dekat sungai, tidak begitu jauh dari rumah.
Belum jauh beranjak dari tempat Alif mengambil air, sudah habislah air yang di dalam ember. Sampai diulangi ketiga kalinya, Alif menyerah dan menghampiri kakeknya seraya mengeluh “Kek, ini kan sia-sia saja, masa ambil air dengan tempat yang sudah bocor seperti ini”. Simpul senyum kakek merekah untuk menenangkan kegusaran si Alif, “coba lagi Lif, pasti tidak ada yang sia-sia”
Rupanya tekad Alif untuk mengetahui jawaban itu sudah bulat, bak air bah yang datang dengan derasnya yang akan menerjang tiap bendungan. Alif berpikir, supaya air bisa dibawa pulang maka ia harus memangkas perjalanan. Salah satu cara untuk memangkas perjalanan adalah dengan berlari. Benar adanya, Alif mulai berlari untuk mempersingkat jarak tempuh dan supaya ada air yang dapat ia bawa pulang. Tanpa sadar Kakek memperhatikan Alif dari jauh.
Melihat tekad cucunya masih membara, tapi tidak dengan kekuatan fisiknya, Kakek lagsung memanggil Alif untuk menyudahi. “Bagaiman Alif, apakah kamu berhasil?” tanya Kakek. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal Alif pun menjawab dengan lesu “tidak kek, bagaimana mungkin Alif bisa membawa pulang air kalau tempatnya saja tidak bisa untuk menampung air seperti itu”, sahut Alif dengan sedikit kesal karena merasa melakukan hal yang sia-sia saja.
Dalam pikiran Alif, tentu pekerjaan dengan alat yang begitu terbatas yang diberikan oleh kakeknya adalah pekerjaan yang tak berguna, sia-sia atau sejenisnya. Kalau saja Alif tidak ingin tahu jawaban dari mengapa tiap pagi Kakek membca Al-quran sedangkan kakek tidak mengetahui artinya, tentu Alif akan menawar dengan menggunakan ember yang lain.
Lalu Alif beristirahat dan Kakek membuat teh hangat  manis dan menyuruh Alif untuk minum. Setelah melihat perangai Alif yang mulai tenang, kakek mulai menjelaskan kenapa Alif diberikan pekerjaan yang terkesan buang-buang waktu dan tidak berguna.
“Alif, pekerjaan yang kamu lakukan tadi itu adalah jawaban yang kamu inginkan”, terang kakek. “Maksudnya kek?”, sambar Alif. “Coba sekarang kamu perhatikan bagiaman ember yang kamu pakai tadi?”. “Tidak ada apa-apa kek”. “Coba lihat sekali lagi”. Alif termenung sejenak, mengamati ember tersebut dengan seksama. Dahi Alif yang berkerut sebagi tanda ia sedang berpikir kini mulai merenggang dan berubah menjadi sumringah. “Ini kek ketemu, embernya jadi bersih, tadi kan kotor sekali penuh dengan bekas arang”
“Nah, pintar kamu Lif. Itu jawabannya”, kata kakek. “Maksudnya kek?”, tanya Alif dengan gesture garuk-garuk kepala ala orang berpikir sebuah tanda meminta kakek untuk menjelaskannya.
"Tadi katanya kamu bilang kalau kamu mengerjakan pekerjaan yang sia-sia kan Lif, tapi ternyata tanpa kamu sadari kamu sudah melakukan satu pekerjaan besar, yaitu membersihkan ember. Seperti itulah Lif, kakek memang tidak tahu arti dari al-quran. Membacanya seperti pekerjaan yang sia-sia dan menghabiskna waktu. Tapi, Alloh akan membersihkan hati manusia yang setiap hari disirami dengan bacaan kitab suci Al-quran. Kakek meyakini satu hal itu Lif."
“Seringkali manusia, sisi idealisnya menuntutnya untuk melakukan sesuatu berlandaskan ilmu pengetahuan. Namun, ada landasan yang lebih kuat dibanding hal tersebut, yaitu menjalankan dengan rasa taat dan ikhlas kepada Alloh SWT. Selalu berkhusnudhon kepada Alkholiq, jika sekecil apapun yang kita perbuat pati Alloh akan membalasnya. Siapa yang menam, ia juga yang akan menuai”, jelas kakek.