Pagi itu,
matahari belum mau menampakan diri dari balik bukit belakang rumah, udara masih
menusuk tajam bagi si Alif kecil, dan itu cukup mejadi alasan baginya untuk
membenarkan selimut daripada bergegas beranjak dari tempat tidur. Kicauan
burung berharmoni dengan lantunan ayat suci alquran menjadi simphoni, menu pagi
pengiring “tidur ayam” si Alif.
“Alif, bangun
nak, sholat subuh dulu. Ini udah mau siang loh”, pinta kakek. Dengan malas pun
alif menjawa “emhh, iya kek, bentar lagi, masih dingin ni” sambil membenarkan
selimutnya. Kakek pun mulai mendekati dan dengan lembut kakek mulai
membangunkan. Akhirnya terpenuhilah kewajiban alif untuk melaksanakan sholat
subuh.
Jengkal demi
jengkal matahari mulai menghangatkan setiap sudut desa. Alif yang sudah mandi
segera berpamitan pada kakek untuk bermain dengan teman-temannya. "Kek,
alif main sama teman-teman dulu ya?". "oh, iya nak, tapi jangan main
di sungai ya, baru banjir kan?". "Iya kek,", sahut Alif sembari
lari bergegas pergi menemui teman-temannya.
