Manusia dengan segala polemiknya mau tak mau harus menghadapai satu kepastian
yang tak mungkin dan tak akan bisadielakkan. Kepastian itu akan membuat semua
orang berhenti untuk berlari, behenti untuk mengejar dan hanya akan mejadi
seonggok daging yang tak berdaya. Kematian menuntun manusia menuju pada Kholiq,
penciptanya dan pencipta alam semesta. Tak banyak yang “sadar” kalau kematian
itu senantiasa mengintai manusia, bak bayangan, ia akan selalu membuntuti kemana
saja pergi dan bahkan ditempat yang paling redup sekalipun.
Seringkali manusia berada
dalam keterlenaan nikmat duniawi, dibuai dalam hingar-bingar surgawi dunia yang
menyuguhkan sebuah kenikmatan yang seperti tiada habisnya, yang sejatinya itu
sangat maya, sangat sebentar saja. Tak sadarkah manusia, jika yang abadi itu
lebih sejati? Akhirat, tempat pembalasan di ladang dunia atas apa yang kita
tanam.
Mungkin pernah rekan-rekan mengalami feels yang sering kali saya rasakan. Mencoba menerawang masa depan kita dengan segala tumpukan impian dan harapan yang menggunung. Namun suatu saat tumpukan itu mulai goyah karena sebuah kenyataan, kematian.
Mungkin pernah rekan-rekan mengalami feels yang sering kali saya rasakan. Mencoba menerawang masa depan kita dengan segala tumpukan impian dan harapan yang menggunung. Namun suatu saat tumpukan itu mulai goyah karena sebuah kenyataan, kematian.
