Bersyukur saat Tersungkur

       Kalau ditanya, pernahkah kita menghadapi permasalahan yang hampir saja “merenggut” akal sehat kita? Kemudian kita menjadi pribadi yang pemurung, putus asa dan tak bergairah lagi menjalani hidup ini?
Pasti itu sering kita alamai. Tapi, tahukah kita semua? Bahwa pada dasarnya kita semua mempunyai masalah yang sama. Bukan dilihatdari kualitatif ataupun kuantitatif permasalahan yang kita hadapi, tapi lebih ke makna  masalah itu sendiri. Maksudnya, seberapa banyak Tuhan memberi permasalahan kepada kita semua itu sama, karena Tuhan selalu memberi cobaan tidak pernah melebihi batas kemampuan hambaNya.
Allah tidak akan memberikan beban (taklif) kepada seseorang di luar batas kemampuannya.” (TQS. Al Baqarah [2] : 286)
       Jika kita mengidentifikasi masalah yang tengah kita hadapi dan ternyata masalah kita yang jauh lebih besar, itu artinya kesanggupan kita lebih besar untuk menyelesaikan masalah itu. Buikan berarti Alloh tidak adil dalam memberikan cobaan-cobaanNya. Tetapi kecenderungannya, kita hampir selalu menjustifikasi jika kita tengah menghadapi masalah yang lebih berat selalu saja yang berakar dalam kepala kita bahwa Alloh sedang memberi ujian yang berrat sedang untuk orang lain Alloh hanya memberi ujan yang ringan.

Kembali padaNya

Manusia dengan segala polemiknya mau tak mau harus menghadapai satu kepastian yang tak mungkin dan tak akan bisadielakkan. Kepastian itu akan membuat semua orang berhenti untuk berlari, behenti untuk mengejar dan hanya akan mejadi seonggok daging yang tak berdaya. Kematian menuntun manusia menuju pada Kholiq, penciptanya dan pencipta alam semesta. Tak banyak yang “sadar” kalau kematian itu senantiasa mengintai manusia, bak bayangan, ia akan selalu membuntuti kemana saja pergi dan bahkan ditempat yang paling redup sekalipun.
       Seringkali manusia berada dalam keterlenaan nikmat duniawi, dibuai dalam hingar-bingar surgawi dunia yang menyuguhkan sebuah kenikmatan yang seperti tiada habisnya, yang sejatinya itu sangat maya, sangat sebentar saja. Tak sadarkah manusia, jika yang abadi itu lebih sejati? Akhirat, tempat pembalasan di ladang dunia atas apa yang kita tanam.

       Mungkin pernah rekan-rekan mengalami feels yang sering kali saya rasakan. Mencoba menerawang masa depan kita dengan segala tumpukan impian dan harapan yang menggunung. Namun suatu saat tumpukan itu mulai goyah karena sebuah kenyataan, kematian.