Ana Dina Ana Upa (Ada Hari Ada Nasi)

Semua kejadian yang ada di alam semesta ini merupakan ayat-ayat tersirat sebagai bahan pembelajaran bagi insan dari Al-kholiqnya. Semua disajikan begitu komplit supaya manusia dapat memilah dan memilih mana yang hendak ia serap, saring dan dibuang. Tak lain dan tak bukan semua untuk untuk mengembalikan ke rumahnya yang sesungguhnya, surga.
Seringkali manusia lupa, bahwa rumahnya sekarang di dunia ini sifatnya maya, dan sangat sementara. Siapa yang terlena pasti ia akan kecewa. Peraduan yang hakiki ialah Ilahi rabbi, bukan rumah mewah dan tanah luas. Harta membuat manusia membuat lupa akan kiblatnya, bahwa semata-mata ia dicipta untuk beribadah kepadaNya.

Bak Tiada Guna, tapi Siapa Sangka..!!

Pagi itu, matahari belum mau menampakan diri dari balik bukit belakang rumah, udara masih menusuk tajam bagi si Alif kecil, dan itu cukup mejadi alasan baginya untuk membenarkan selimut daripada bergegas beranjak dari tempat tidur. Kicauan burung berharmoni dengan lantunan ayat suci alquran menjadi simphoni, menu pagi pengiring “tidur ayam” si Alif.
“Alif, bangun nak, sholat subuh dulu. Ini udah mau siang loh”, pinta kakek. Dengan malas pun alif menjawa “emhh, iya kek, bentar lagi, masih dingin ni” sambil membenarkan selimutnya. Kakek pun mulai mendekati dan dengan lembut kakek mulai membangunkan. Akhirnya terpenuhilah kewajiban alif untuk melaksanakan sholat subuh.
Jengkal demi jengkal matahari mulai menghangatkan setiap sudut desa. Alif yang sudah mandi segera berpamitan pada kakek untuk bermain dengan teman-temannya. "Kek, alif main sama teman-teman dulu ya?". "oh, iya nak, tapi jangan main di sungai ya, baru banjir kan?". "Iya kek,", sahut Alif sembari lari bergegas pergi menemui teman-temannya.

Bersyukur saat Tersungkur

       Kalau ditanya, pernahkah kita menghadapi permasalahan yang hampir saja “merenggut” akal sehat kita? Kemudian kita menjadi pribadi yang pemurung, putus asa dan tak bergairah lagi menjalani hidup ini?
Pasti itu sering kita alamai. Tapi, tahukah kita semua? Bahwa pada dasarnya kita semua mempunyai masalah yang sama. Bukan dilihatdari kualitatif ataupun kuantitatif permasalahan yang kita hadapi, tapi lebih ke makna  masalah itu sendiri. Maksudnya, seberapa banyak Tuhan memberi permasalahan kepada kita semua itu sama, karena Tuhan selalu memberi cobaan tidak pernah melebihi batas kemampuan hambaNya.
Allah tidak akan memberikan beban (taklif) kepada seseorang di luar batas kemampuannya.” (TQS. Al Baqarah [2] : 286)
       Jika kita mengidentifikasi masalah yang tengah kita hadapi dan ternyata masalah kita yang jauh lebih besar, itu artinya kesanggupan kita lebih besar untuk menyelesaikan masalah itu. Buikan berarti Alloh tidak adil dalam memberikan cobaan-cobaanNya. Tetapi kecenderungannya, kita hampir selalu menjustifikasi jika kita tengah menghadapi masalah yang lebih berat selalu saja yang berakar dalam kepala kita bahwa Alloh sedang memberi ujian yang berrat sedang untuk orang lain Alloh hanya memberi ujan yang ringan.