Suatu hari,
duduklah seorang pemuda bernama Fulan di sebuah bangku panjang di bawah pohon
beringin tempat nongkrong anak muda. Alangkah indah hidup ini ketika kita
melihat raut muka si Fulan. Dengan memandangi setangkai mawar mewar, dia begitu
bahagia, merasa tidak ada lagi yang perlu dikerjakan kecuali hanya itu saja.
Matanya berbinar, sorot kebahagiaan, bibirnya berhias senyum yang
merekah.
Pada kesempatan yang sama,
datanglah teman Fulan yang bernama Habibi. Habibi begitu terheran-heran ketika
melihat temannya itu begitu menikmati hidup hanya dengan memandangi sekuntum
mawar merah. Dia begitu "iri" dengan Fulan karena mendapat begitu banyak
kebahagiaan dari bunga tersebut. Tanpa pikir panjang, Habibi pun segera membeli
bunga yang sama dengan yang dipandangi oleh si Fulan.
Haduh, si Habibi malah kebingungan sendiri, bukan
rasa bahagia yang dia dapat saat melihat bunga mawar tersebut tapi justru rasa
penyesalan dalam diri Habibi, yah tentu saja uang itu dapat dibelikan makanan
yang dapat membuat perut kenyang, gerutu Habibi.
